Wednesday, 28 January 2015

Dalam Renungan Di Perjalanan

Entah apakah aku mampu meraihmu
Mungkin hanya sebuah semu belaka
Bagai fatamorgana di padang pasir
Meski aku berlari dan menyisir
Tetap tak mampu aku meraihmu
Hingga engkaupun menjadi jemu
Melihat aku seakan tak tahu malu
"Kenapa tidak kau usir saja aku?"
Begitulah yang ada dalam benakku
Tapi aku tak mampu mengatakanya padamu
Karena sesungguhnya aku masih berharap padamu
Akankah kau tahu usahaku itu?
Hingga kau luluh dan menghampuriku
Ahh kurasa itu tidak mungkin
Kau terlalu jauh
Bahkan seribu tahun aku berlari mengejarmu
Tetap aku takan sampai padamu

Mungkin hanya waktu yang mampu menyadarkanku
Saat aku telah menua dan tak lagi mampu
Meski untuk duduk dan menatapmu
Dari peraduanku
Yang tak mampu lagi menjangkaumu
Atau bahkan memikirkanmu
Meski hati masih berdetak untukmu
Ini hanya akan jadi cerita pilu
Bagiku untukmu
Oh Tuhanku
Hanya kau pengendali hatiku

Bahkan aku tak mampu memilih hati mana untuk ku tuju
Mungkin akan indah jika aku hanya menujuMu
Maka dari itu oh Tuhanku
Bimbinglah aku
Agar aku tak tersesat padah hati yang menjatuhkanku

Palembang, 28 Januari 2015

20 comments:

Yono Karyono said...

Keren puisinya sob... sambil melangkah sambil merenung

IQROZEN said...

Hati kalo sedang merenung di perjalanan ya gan hehe

Mbak Susi said...

rangkaian kata yang indah :)

Aldino Sya said...

puisinya penuh makna tersendiri ya Mas..!,

tapi alangkah baiknya kita sama2.. meneguhkan diri, bahwa kesemuanya ada hikmahnya, di mana ada kesusahan.. di situ ada dua kemudahan..dan tentunya tidak berputus asa dari rahmatNya..aamiin

yanto cungkup said...

sungguh indah goresan tintanya mas

yanto cungkup said...

sungguh indah goresan puisinya mas

budi purnomo said...

Kapan2 boleh di bikinin puisi juga ya mas :)

Fenita Gustini said...

Menyentuh, makin sendu deh suasanan pagi ini. :)

Wah, di Palembang ya ternyata. :)

Herdoni Wahyono said...

Hidup memang sangat indah walau didalamnya penuh dengan dinamika dan romantika kehidupan. Banyak kenangan yang tidak akan terlupakan sepanjang hayat ini. Terima kasih Tuhan telah memberikan yang terbaik bagi kita.

Herdoni Wahyono said...

Dunia penuh dengan romantika kehidupan. Ada tawa, tangis, haru, dan bahagia. Banyak kenangan yang tak terlupakan dalam hidup hidup. Bahagia selalu untuk hari-hari yang amat indah ini. Salam cemerlang!

Achmad Fazri said...

Puisi tentang perjalanan hidup ya mas, kalau memang jodoh, tidak akan lari jauh kok...

Cilembu thea said...

jangan terlalu banyak merenung didalam melakukan perjalanan, nanti tijalikeuh...kang.:-)

fiu said...

wah ,,,, asli sy paling nyerah eh klo soal puisi ...ehehehe

Sabda Awal said...

kalau niatnya ngga lurus, ya ngga kesampaian mas walau ngearnya 1000 tahun

azzury pramudiksa said...

wah alus pisan uy puisina, siganamah pujangga ieu teh :D

Mus Djono said...

waduh usia saja ga nyampai seratus tahun harus mengejar seribu tahun mending menyandarkan hati pada Tuhan semata pasti ga akan kecewa dan di buat merana

Ainnul Yaqin said...

Busettt kerenn ini kang puisinya jadi kaku mau komen apa :v salam kenal aja yahh gan

Khai♥Rin : anies said...

saya beri double thumbs up!!!

alkatro com said...

adem benerr.. cakep !

mendamba cinta pd bayang2 semu, hanya bikin ngilu.
sedangkan Yang abadi
selamanya
hanyalah Satu :)

nonton flim online said...

Keren puisinya bos...
sambil melangkah sambil merenung,...
sagat menarik deh puisinya bos...