Monday, 7 September 2009

Aku Rindu

harum semerbak
udara pagi yang menyeruak
menusuk hidungku yang selalu bergejolak
oleh udara kota yang tak lagi bersahabat

tetes embunpun turut menyibak
kerinduan yang telah lama terjebak
dalam dada yang mulai sesak
oleh asap kota yang pekat

rerumputan hijau menemani tiap jejak
hantarkan ku pada kenangan yang mulai terkuak
di antara puing puing memori otak
yang hampir pudar oleh kesibukan kota yang semakin padat

kenangan masa kecil yang mulai terbajak
oleh kegilaan kota yang tak mau beranjak
dari otak
yang hampir bejat

menjauh dari angan yang tak lagi bergerak
dari pahatan pahatan kota yang berus menjambak
satu persatu harta kita kelak
yang mulai hilang dengan cepat

aku rindu desa yang masih bijak
untuk kujadikan tempat berpijak
aku rindu desa yang masih bijak
untuk mencari selamat dari kota yang sesat

aku rindu desa yang masih bijak
oh Tuhan ijinkan ku bergerak
yang kini mulai terperanjat


palembang, 7 September 2009

11 comments:

an4k`SinGKonG said...

hmmmmmmmmmmm...aku rindu pada emaaaaaaaaaakkk bang...????

AISHALIFE-LINE said...

nice poem...

Ivan Kavalera said...

rindu..dia raas yg samudera. tak pernah habis diselami. puisi manis, sobat.

Zippy said...

Aku rindu, rindu tanahku.
Tanah yang masih gembur...
*Puisi gue kayak tukang bajak sawah yeee... :D

Yudie said...

duuhh..ddduuhh.. puisi nya bagus banget sob...
Kata-katanya indah.....

Sukses selalu...

genial♂ said...

memangnya kenapa dengan desanya kang??!?!
penuh asap dari corong pabrikkah?!?!? knalpotkah?!?! tanah makin gundul...?!??! lahan bermain bola disulap jd dinding beton?!?!?

fiuhhh... gmn dgn halnya jakarta kang.. :(

Kabasaran Soultan said...

Ayo !
Mari pulang ke desa

nice poem

Kabasaran Soultan said...

aku rindu desa yang masih bijak
oh Tuhan ijinkan ku bergerak
yang kini mulai terperanjat

Ayo mari kita pulang
Ke desa

Dhamah Syifflah said...

adakah rindu akan berakhir...
apabila mati adalah pilihan...

salam kenal...

an4k`SinGKonG said...

hemm...udah ollower bang,ikot pollower juga yah

Reni said...

Hmmmm... puisinya keren...
Keindahan desa memang sepertinya menjadi tempat yang tepat saat hati sumpek oleh keruwetan hidup.